Kamis, 10 Januari 2013

Ular VS Merpati

Filosof Immanuel Kant pernah menyindir, ada dua watak binatang terselip di setiap insan politik. Kedua watak itu seperti sekeping mata uang dengan dua sisi. Sisi yang satu adalah watak merpati, sisi yang lainnya watak ular. Politisi berwatak merpati digambarkan Im­­ma­nuel Kant sebagai po­litisi lembut dan penuh ke­muliaan dalam mem­­perjuangkan ide­alisme. Sedang po­litisi berwatak ular ada­lah politisi yang berprilaku seperti ular, licik dan jahat, serta selalu berupaya me­mangsa merpati.

Etika politik, kata Immanuel Kant, bertumpu pada dua watak ini. Watak mana yang paling menonjol? Menurut Immanuel Kant, di sinilah letak celakanya, sebab, yang lebih menonjol adalah politisi berwatak ular, atau politisi yang licik dan jahat, yang terus memangsa merpati.

Sastrawan Inggris George Orwell me­­ngarang fabel yang dite­r­je­mah­kan almar­hum Mahbub Djunaidi berjudul “Bina­tangisme”. Mungkin karena ter­pe­sona pada George Orwell, Mahbub la­lu menulis satu kolom di media massa berjudul “Politik Kebun Binatang”. Me­­lalui tulisan itu, Mahbud me­nyi­dir tingkah laku politisi yang ada pada masa itu. Dalam tulisan itu, dia mengatakan, politisi kita bu­kan binatang, walaupun ada istilah homo hopini lupus (manusia adalah srigala bagi manusia lainnya).

De­ngan sindirin itu, Mahbub tengah melakukan penyadaran agar politisi lebih mengedepankan watak mer­pati. “Politisi kita diharapkan lebih ber­watak hanif, cinta dan kon­sisten pa­da kebenaran, bukan me­lakukan pem­benaran,” tulis Mahbub, yang juga tokoh pers mahasiswa pada zamannya.

Orde Baru runtuh, kaum reformis tampil ke depan. Pada awalnya, kaum reformis, atau orang-orang yang berada di luar sistem, yang ber­ada di luar gerbong Orde Baru, masih satu jiwa, bahu-membahu menekuk opolitisi ular. Tak tanggung-tanggung, Akbar Tandjung ketika itu mengubah Golkar menjadi Golkar ‘baru’, di­ple­setkan oleh kaum reformis de­ngan sebutan Golkar ‘bau’.

Pada Pemilu 1999, Golkar yang wak­tu itu diasosiasikan berwatak ular, kalah oleh partai reformis yang di­asosiasikan berwatak merpati. Abdurachman Wahid (Gus Dur) men­jadi presiden. Tetapi tidak la­ma, dia jatuh sebelum periodenya ha­bis. Sejak itu watak merpati po­litisi re­for­masi mengalami per­kem­­­ba­ng­an dahsyat. Sejumlah ana­lisis me­nge­mu­kakan, jatuhnya Gus Dur adalah berkat konspirasi antara politisi ber­watak merpati de­ngan politisi yang semula diklaim sebagai politisi ber­watak ular. Po­litisi ber­watak mer­pati tercemar. Bela­ka­ng­an, tak lagi jelas mana politisi ular dan mana po­litisi merpati.

Pola-pola koalisi yang sangat variatif yang terjadi di berbagai pe­m­i­lukada menjadi salah satu bukti nyata. Bukti lain adanya munculnya apa yang disebut pengalihan isu. Akibatnya, batas-batas ular dan mer­pati tergerus. Semuanya berubah menjadi abu-abu. Maka status uang meningkat menjadi variable utama kemenangan dalam pemilukada. Oposisi yang masih me­nyim­pan wa­tak merpati, tak mau ketinggalan, dan menghalalkan segala cara me­nu­run­kan incumbent.

Istilahnya rawe-rawe rantas, ma­lang-malang tuntas. Urusan rakyat belakangan, terpenting kekuasaan harus berada dalam genggaman. Yang banyak dilakukan kemudian ada­­lah menjadikan semua isu negatif in­cum­bent dan kandidat favorit, sebagai variable penting politik.

Datanglah Jokowi-Ahok. Dua in­san dari desa ini membawa kese­der­­ha­naan, memuliakan rakyat, ke­dua­nya tak berfikir negatif dan ny­a­ris tak pernah menyinggung isu ne­gatif lawan tanding. Keduanya tak berniat menarik ke bawah kan­didat favorit yang berada di keting­gi­an, demi membuat dirinya yang ren­dah menjadi kelihatan lebih ting­gi. Keduanya merasa yakin de­ngan hanya mengandalkan sikap, me­ng­an­dalkan watak merpati. Dengan sikap memuliakan rakyat itu pula, ke­duanya percaya diri memilih ber­koalisi dengan rakyat, bukan de­ngan partai politik di putaran ke­dua. Hasilnya, keduanya keluar se­ba­gai pemenang. Pertarungan dua watak dimenangkan watak mer­pati. Kini hampir dua bulan usia kekuasa­an Jokowi-Ahok. Kebijakan-kebijakan­nya tetap memuliakan rakyat. Per­pek­tif politik berubah, garis ular dan mer­pati kini kembali kian jelas.



Sumber: www.pakuanraya.com - edisi ke 1759 - Rabu, 12 Desember 2012

0 komentar:

Posting Komentar