Senin, 28 Oktober 2013

NEFOS dan OLDEFOS Serta Hubungannya dengan Politik Mercusuar

Pada peringatan sumpah pemuda yang ke-36 pada tanggal 28 Oktober 1964, Presiden Soekarno tidak sedang berada di Indonesia. Maka pada waktu itu beliau hanya memberikan amanat tertulis. Di dalam amanat tersebut, terdapat kata-kata Nefos dan Oldefos. Lalu apa itu Nefos dan Oldefos?


Teks Amanat Presiden Soekarno (28 Oktober 1964)

NEFOS (New Emerging Forces) yakni kekuatan-kekuatan baru yang mewakili keadilan dan pembebasan melawan OLDEFOS (Old Established Forces) yakni kekuatan-kekuatan tua dan mapan yang bersifat imperialistis dan neokolonialistis.

OLDEFOS adalah kelompok negara-negara yang kapitalis, imperialis, termasuk di dalam kelompok ini antara lain Inggris, Amerika, Belanda, dan lain-lain. OLDEFOS adalah sebagai kelompok negara-negara penjajah (kolonial)

NEFOS adalah kelompok negara-negara terjajah (dan bekas jajahan) yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh OLDEFOS. NEFOS adalah kelompok negara-negara yang berjuang untuk merdeka dan negara yang belum lama merdeka. Indonesia sendiri secara tegas menyatakan dirinya termasuk dalam kelompok NEFOS).

Salah satu kebijakan politik yang terkenal di masa Soekarno adalah Politik Mercusuar. Kebijakan ini dapat diartikan menjadi pembangunan yang besar-besaran di Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat negara-negara berkembang. Soekarno menggalang kekuatan dari negara-negara yang masih memperjuangkan kemerdekaannya yang disebut dengan The New Emerging Forces (NEFOS). Musuh dari NEFOS adalah negara-negara yang sedang berkembang yaitu The Old Established Forces (OLDEFOS). Politik Mercusuar inilah yang menjadi tonggak berdirinya Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, Gedung CONEFO (sekarang DPR) dan Jembatan Ampera.

Politik Mercusuar adalah politik yang dijalankan oleh Presiden Soekarno pada masa demokrasi terpimpin yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai mercusuar yang dapat menerangi jalan bagi New Emerging Forces (kekuatan baru yang sedang tumbuh) di dunia. Proyek-proyek besar dan spektakuler pun diselenggarakan dengan harapan dapat menempatkan Indonesia pada kedudukan terkemuka di kalangan Nefo. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar mencapai milyaran rupiah, di antaranya pembangunan jalan-jalan, hotel-hotel mewah, toko serba ada "Sarinah", Jembatan Semanggi, Tugu Monas, dan diselenggarakannya Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang membutuhkan pembangunan Gelanggang Olahraga (Gelora) Senayan serta biaya perjalanan bagi delegasi asing.

Politik Mercusuar ini mendapat kecaman dari berbagai kalangan yang menganggapnya sebagai pemborosan uang negara. Dalam biografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams, Soekarno menjelaskan:

"Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukan untuk keagunganku, tapi agar bangsaku dihargai oleh seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketika mendengar Asian Games 1962 akan diselenggarakan di Ibukotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia. Kota-kota di mancanegara memiliki stadion yang lebih besar, tapi tak ada yang memiliki atap melingkar. Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan – ini juga penting."
 
Politik Mercusuar berakhir dengan meletusnya Peristiwa G 30 S tahun 1965 yang memudarkan kepercayaan rakyat terhadap Presiden Soekarno hingga lengsernya beliau tahun 1967.

Mari kita berbicara tentang Gelora Bung Karno. Stadion kebanggan Indonesia ini didasarkan atas terpilihnya Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games. Dana Pembangunan stadion ini didapat dari bantuan Uni Sovyet sebesar 12,5 juta US Dollar. Menurut salah satu ajudan Bung Karno utang pembangunan kompleks stadion ini dibayar dengan karet alam dalam tempo dua tahun. Pada masa orde baru, dalam rangka de-Soekarnoisasi nama Stadion ini diubah menjadi Stadion Utama Senayan dan kemudian dikembalikan kembali menjadi Gelora Bung Karno melalui Surat Keputusan Presiden No.7 tahun 2001. Dalam penyelenggaran Asian Games, Bung Karno masih menerapkan NEFOS dan OLDEFOS, sehingga melarang negara-negara OLDEFOS mendapat visa ke Indonesia. Hal ini berdampak pada pencoretan nama Indonesia dari Komita Olimpiade Internasional. Karena sifat Bung Karno tadi dan keinginannya yang besar untuk memajukan Indonesia, Bung Karno akhirnya membuat acara olahraga tandingan Olimpiade yaitu Games of New Emerging Forces (GANEFO) dengan semboyan Onward! No Retreat!
Wah...Lihatlah Presiden kita Soekarno ini. Dia pribadi yang luar biasa. Visi-nya untuk Indonesia tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi untuk jangka panjang. Kalau saja Presiden Soekarno waktu itu tidak dikudeta dan dilengserkan, admin sendiri berpendapat bahwa Indonesia akan menjadi negara yang sangat maju dibanding negara-negara lain. Kalau kita berada di masa itu, memang kita akan berfikir bagaimana bisa membangun fasilitas negara yang besar, sedangkan masyarakat kelaparan. Tetapi sungguh maksud dari Soekarno adalah mengidentitaskan Indonesia.

Hmm...dihari Sumpah Pemuda ini marilah kita membangun lagi negara Indonesia ini dengan lebih baik. Kita harus lebih baik daripada para pendahulu kita. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Mari bangun bangsa ini dengan segenap hati. Mari kita cintai Indonesia. We LOVE You INDONESIA..

Sumber :
http://www.tuanguru.com
tetosilaban.wordpress.com

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar