Rabu, 17 Desember 2014

Plus Minus Kurikulum 2013

Cileungsi - Kurikulum 2013 belum siap? Memang benar menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang menyatakan bahwa implementasi kurikulum 2013 ini terkesan terburu-buru.

"Saya tidak punya masalah dengan kurikulumnya. Saya tidak paham kenapa urusan sebesar ini dipindah seperti memutar kapal speed boat. Ini yang membuat saya gemes dengan Kurikulum 2013," ujar Anies dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten, dan Kota se-Indonesia di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (1/12).


Menurut analisis kami, Kurikulum 2013 ini sudah tepat dalam hal "tujuan" yang tidak menilai siswa dari pengetahuan saja, namun juga sikap, sosial dan keterampilan. Karena sesungguhnya manusia yang sukses, bukan yang waktu sekolah dia pintar saja. Banyak orang sukses yang dimasa sekolahnya ia sangat bodoh dalam pelajaran. Tapi misalnya ia rajin dalam keterampilan atau olahraga. Misalnya si A mendapat nilai 100, namun hasil tersebut didapatkan dari mencontek? Bagaimana?

Tidak ada yang salah dalam kurikulum 2013. Namun yang sangat disayangkan adalah masih banyaknya kekurangan dan keterlambatan. Misalnya buku yang baru datang setelah 4 bulan pelaksanaan. Lalu pelatihan kepada guru tentang format-format penilaian dalam kurikulum 2013 yang telat dan dilaksanakan mendekati Ujian Akhir Semester. Sampai penulisan raport yang baru diketahui wali kelas akhir-akhir ini.

Kekurangan yang menjadi masalah adalah, apabila penilaian menggunakan deskripsi apakah akan berbeda atau lebih baik daripada penilaian pada kurikulum yang lalu? Sedangkan deskripsi dalam setiap KI pada raport K-13 itu "kata-kata"nya disama ratakan kepada setiap siswa. Misal jika si Susan mendapat nilai A pada sikap, maka kata-katanya adalah "Ananda sangat baik dalam sikap". Lalu si Andi juga mendapat nilai A pada sikap. Maka kata-kata yang sama yang akan keluar. Padahal setiap anak pasti berbeda. Lalu kenapa tidak ditulis tangan saja kalau begitu? Hmmm.... Siapa guru yang mau menulis raport dengan jumlah 40-an siswa dengan deskripsi yang luar biasa banyak?

Lagipula raportnya kosong. "Pemerintah juga bingung mau diisi apa?" candaan Pak Joko, Kepala Sekolah SMK 1 Gunung Putri pada saat pertemuan membahas aplikasi yang mana yang akan dipakai untuk mengisi raport (13/12/2014). Penunjukan aplikasi pengisian raport ini dengan tujuan menyeragamkan isi raport. Tampilan raport Kurikulum 2013 dapat anda lihat disini

Masih banyak kekurangan-kekurangan yang harusnya dikaji selama minimal 3-4 tahun baru kurikulum 2013 ini dijalankan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semoga akan ada banyak evaluasi yang bisa menyempurnakan kurikulum ini. Masih banyak SMP - SMA/K yang akan melanjutkan kurikulum 2013 ini di semester 2. Karena selain dalam penilaian tadi, kurikulum ini baik-baik saja. "Lagian sudah terlanjur basah" menurut Ibu Siti Nurhajizah, guru SMK Darma Bakti.

Namun hampir seluruh SD pasti akan kembali ke kurikulum KTSP. Kenapa? Karena materi pelajaran yang kini berbentuk Tematik tidak cocok untuk diterapkan di SD. Guru kebingungan, siswa kebingungan, sampai orang tua pun bingung. Lebih baik mata pelajaran tetap seperti dalam kurikulum KTSP yang tidak disatukan seperti pada kurikulum 2013. Kalau anda tanyakan kepada setiap guru SD, pasti mereka serempak kembali kepada kurikulum KTSP/ 2006.

Apapun itu, semuanya ada di tangan pemerintah. Pemerintah yang bertanggung jawab, dan semoga perubahan-perubahan kurikulum ini bukan karena "kepentingan" pribadi atau golongan. Karena yang dipertaruhkan adalah masa depan Bangsa.

Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar